CIKARANGRELATE.com (Cikarang) - Penyalahgunaan obat keras jenis tramadol dan eximer di kalangan remaja kian memprihatinkan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di kota besar, tetapi juga merambah kawasan industri dan permukiman padat seperti di wilayah Bekasi. Pertanyaannya, apa yang mendorong remaja berani mengonsumsi obat-obatan tersebut?
Pengamat sosial dan praktisi pendidikan menilai, faktor
pergaulan dan rasa ingin tahu menjadi pemicu utama. Remaja berada pada fase
pencarian jati diri, sehingga mudah terpengaruh lingkungan sekitar, terutama
teman sebaya.
Tekanan Lingkungan dan Gengsi Pergaulan
Dalam sejumlah kasus, konsumsi tramadol dan eximer berawal
dari ajakan teman. Ada anggapan keliru bahwa mengonsumsi obat tersebut dapat
meningkatkan rasa percaya diri, membuat lebih berani, atau dianggap “keren”
dalam kelompok tertentu.
Tonton di YouTube: Kapolres Metro Bekasi Geruduk Kampung Kavling Cikarang
“Biasanya awalnya coba-coba. Karena ingin diterima di
lingkungan pergaulan,” ujar seorang pemerhati remaja di Bekasi.
Tekanan untuk tidak dianggap berbeda sering membuat remaja
sulit menolak, meski mereka belum sepenuhnya memahami risiko yang akan
dihadapi.
Minimnya Edukasi Bahaya Obat Keras
Tramadol sejatinya adalah obat pereda nyeri yang
penggunaannya harus dengan resep dokter. Sementara eximer merupakan obat yang
bekerja pada sistem saraf dan juga memerlukan pengawasan medis. Namun karena
bentuknya berupa tablet dan kerap dijual secara ilegal, sebagian remaja tidak
menyadari bahwa obat tersebut termasuk golongan keras.
Kurangnya literasi mengenai bahaya penyalahgunaan obat
membuat remaja menganggapnya tidak berbahaya seperti narkotika jenis lain.
Faktor Stres dan Pelarian Masalah
Tekanan akademik, masalah keluarga, hingga persoalan ekonomi
juga disebut menjadi pemicu. Beberapa remaja menggunakan obat-obatan sebagai
pelarian untuk mengurangi stres atau beban pikiran.
Efek sementara seperti rasa tenang atau euforia membuat
mereka merasa “terbantu”, padahal dalam jangka panjang justru memicu
ketergantungan dan gangguan kesehatan.
Akses yang Terlalu Mudah
Peredaran obat keras secara ilegal di lingkungan permukiman
menjadi faktor lain yang memperburuk situasi. Kemudahan akses membuat remaja
tidak kesulitan mendapatkan obat tersebut tanpa resep dan tanpa pengawasan.
Pihak aparat di Kabupaten Bekasi disebut terus melakukan
penindakan terhadap pengedar. Namun pengawasan dinilai harus diperkuat agar
distribusi ilegal dapat ditekan secara maksimal.
Ancaman Nyata bagi Generasi Muda
Tenaga kesehatan mengingatkan, konsumsi tramadol dan eximer
tanpa pengawasan dapat menyebabkan gangguan saraf, perubahan perilaku, hingga
ketergantungan. Dampaknya tidak hanya merusak kesehatan, tetapi juga masa depan
pendidikan dan karier remaja.
Pencegahan dinilai harus melibatkan semua pihak: keluarga,
sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Komunikasi terbuka antara orang tua dan
anak menjadi benteng pertama agar remaja tidak mencari pelarian yang salah.
Fenomena ini menjadi alarm serius bahwa penyalahgunaan obat
keras bukan sekadar isu hukum, melainkan persoalan sosial yang mengancam masa
depan generasi muda di Kabupaten Bekasi.
.png)